Mungkin ini adalah tulisan aku pertama yang tidak mengandung puisi perjalanan hidupku.
Aku lemah, aku lemah melihat tulisan perempuan yang di sakiti hatinya olehnya,
entah ... sebetulnya aku seharusnya tertawa ketika perempuan itu di campakan olehnya,
Perempuan yang telah merebut dia dengan segala tebar puisi dan 'kecentilan-nya'
Tapi, hati nuraniku berkata lain ... aku lemah ... aku tak tega melihat perempuan itu berisak tangis,
Hati nuraniku mengasihinya, hati kecilku berontak ...
Aku tak tahu siapakah yang harus di salahkan? CherO? Perempuan centil itukah? atau mungkin diriku?
Ku tak berani mengangkat kata sepatah pun, yang ku tahu diriku masih menyayangi dirinya,
Entah apakah perkataan yang di tulis perempuan itu benar ada nya, jika dia masih sayang aku?
Tuhan, cukup sudah korban percintaan ini, jangan kau ijinkan semua ini terjadi lagi.
Jika Aku yang harus berkorban tuk menghentikan korban cinta lainnya,
maka ku relakan diri ini yang berkorban ...
Cukup sudah .... Cukup ....... Jangan ada lagi korban yang berjatuhan
Jangan, satu pun jangan ada lagi ...............................cukup sudah sampai disini.
Entaskanlah semuanya dan cukup hingga disini.
*Hai perempuan jalang , cukup ... jangan kau buat hati nurani ini berpihak kepadamu.
Jika memang harus ada yang mencucurkan air matanya, seharusnya itu adalah aku.
Kamu tau seberapa dalam kesedihanku dulu,
ketika kau tebarkan pesona dengan segala kata manis puitis konyolmu?
Puisi nafsu mu, puisi egomu, puisi selingkuhmu dan ketika segala kemewahan
dan ketenaran menutupi cinta murnimu.
Sadarlah dan camkanlah itu sebelum kau mencucurkan air matamu sekali lagi.
"Janganlah bermain api bila tak ingin terbakar"
No comments:
Post a Comment