Friday, August 09, 2002

Dalam hidup akan selalu ada tanya,
Namun dalam tanya tak akan selalu ada jawab ...

"Ada surat untukmu, Tuan"
"Aku sudah melihatnya, abdiku yang setia."
"Lalu mengapa Tuan tidak membalasnya?" Tanya sang abdi keheranan.
"Abdi setiaku, aku sedang menjawabnya, tapi pertanyaanku ... apakah segala jawab nantinya akan cukup? Aku tak ingin jawaban ini nantinya akan membawa aib."
"Mengapa Tuan berpendapat demikian?"
"Ada sebagian orang yang memandang kata sebagai sebuah stimulus atau rangsangan yang dapat mengecam eksistensi diri dan lalu bicara di atas untuk mengelolah hal-hal yang tak kan pernah habis"
"Maksud Tuan pembenaran?"
"Demikianlah abdiku, Hal yang akan selalu menguras otak dan sisa-sisa waktu tuk sebuah rekaan kehati-hatian, yang walau sesungguhnya kebenaran kan selalu tergantung di nuraninya."
"Bukankah itu artinya dosa Tuanku?" Tanya sang abdi.
"Kita semua berdosa abdiku."
"Apakah dengan mengingkari sebuah kebenaran hati nurani termasuk dosa?"
"Tergantung abdiku. Tergangung dari yang mengingkari itu sadar atau tidak? Namun hal yang paling mengiris adalah dampak samping dari pengingkaran dan penyimpangan nurani".
"Maksud Tuan?"
"Ibaratkan, saat seseorang yang memulai hidupnya menjadi seorang sastrawan, kebanyakan mereka memulainya dari hal yang sederhana, sesederhana sastrawan tak di kenal, saat dia mulai di kenal oleh sebagian pengagumnya, sastra nya akan terlihat lebih bijak dan lebih berhati-hati, dan ketika dia ada di ambang puncak kejayaannya, sastranya akan lebih sering di publis dengan dampak "Inilah aku, diriku dan duniaku" hingga terkadang melupakan asal usul sastrawan tak dikenal. Namun saat mereka mulai tersisih, sastranya akan lebih mengisi kolom-kolom "Ruang tunggu" yang isinya lebih cenderung mengaduk-ngaduk kejayaan tua, dengan menantang penyisih dan melupakan Sang pemberi kata"
"Ah Tuan, itu berhujat namanya"
"Tapi inilah fakta pergaulan dunia, keinginan yang selalu terpenuhi membuat terlena dan saat teguran penolakan kata itu datang, mereka akan mulai lepas "Sang pemberi kata sudah keterlaluan"
"Serumit itukah hidup ini?" Tanya sang abdi sambil mengerutkan dahinya.
"Kita semua di beri talenta yang berbeda-beda, dan tergangung bagaimana kalian mengolah talenta itu. Mau rumit atau sederhana, kalian sendirilah yang menentukan"
"Tapi terkadang, pilihan sederhana pun rumit tuk di raihnya" Tanya sang abdi yang kebingungan.
"Abdiku, saat kau megatakan kata yang barusan, itupun sudah termasuk satu pilihanmu"
"Ah, sungguh?"
Sang Tuan tertawa kecil lalu melihat ke arah langit, "Ibaratkan seorang pemulung, saat dia menggunakan otaknya tuk bepikir Makanan apa yang ia bisa makan tuk esok hari ?, saat itu jugalah dia sudah memilih kesederhanaan hidup hanya untuk makanan di esok hari, namun saat ia mulai memilih bentuk makanannya, maka dia sudah mengunci pilihan"
Sang abdi terdiam, sambil ikut menatap langit biru di luar.

"Aku lelah abdiku, maukah kamu menemaniku duduk di kendaraanku untuk mengitari cuaca biru?"
"Tentu Tuanku, ini adalah satu kehormatan bagiku".
"Kemarilah, duduk di samping kemudiku"
"Tuan, aku tidak cukup terhormat untuk duduk di sebelah Tuan" Jawab sang abdi sambil menunduk.
"Kamu adalah abdiku di saat aku duduk di kursi kerjaku, tetapi saat aku duduk di kendaraan ini, Kau dan aku adalah sama adanya"
"Ah Tuan, maafkan atas kelancanganku ..."
"Kau boleh memanggilku Abdi disini, karena itulah namaku yang sesungguhnya".
"Aaa ... bdi ....?" jawab sang abdi sambil terbata-bata.
Abdi hanya tertawa kecil dan yang akan selalu kecil dalam menawa ...

No comments: