Malam ini, bulan diluar tampak setengah
Angin terus mengejar bayangan setengah
Musim telah berubah dalam tengah
Tak ada yang sama ...
Kekacauan hidup terasa dalam tengah nada
Engkau yang tak punya lagi pegangan,
Terombang ambingkan dengan tiupan
Terbawa dan terasuk dalam hari
Sungguh, ingin ku angkat dirimu
Sungguh, ingin ku ulang semua kisahmu
Tapi kini keadaan telah berubah
Jarak dan waktu telah merubah segalanya ...
Yah ... segalanya ...
kecuali kenang yang pernah kita punya ...
Maafkan aku ... hilang semua rasa itu ...
Tapi walau bagaimanapun, ku tak kan pernah mencaci dirimu ...
Karena aku kan tetap menyimpan semua rasa ini ...
Rasa yang akan memiliki tempatnya sendiri ...
Semoga Engkau bahagia selalu ...
Dalam kenangan merindu -CherO-
Friday, August 30, 2002
Tuesday, August 27, 2002
Tuesday, August 13, 2002
Friday, August 09, 2002
Dalam hidup akan selalu ada tanya,
Namun dalam tanya tak akan selalu ada jawab ...
"Ada surat untukmu, Tuan"
"Aku sudah melihatnya, abdiku yang setia."
"Lalu mengapa Tuan tidak membalasnya?" Tanya sang abdi keheranan.
"Abdi setiaku, aku sedang menjawabnya, tapi pertanyaanku ... apakah segala jawab nantinya akan cukup? Aku tak ingin jawaban ini nantinya akan membawa aib."
"Mengapa Tuan berpendapat demikian?"
"Ada sebagian orang yang memandang kata sebagai sebuah stimulus atau rangsangan yang dapat mengecam eksistensi diri dan lalu bicara di atas untuk mengelolah hal-hal yang tak kan pernah habis"
"Maksud Tuan pembenaran?"
"Demikianlah abdiku, Hal yang akan selalu menguras otak dan sisa-sisa waktu tuk sebuah rekaan kehati-hatian, yang walau sesungguhnya kebenaran kan selalu tergantung di nuraninya."
"Bukankah itu artinya dosa Tuanku?" Tanya sang abdi.
"Kita semua berdosa abdiku."
"Apakah dengan mengingkari sebuah kebenaran hati nurani termasuk dosa?"
"Tergantung abdiku. Tergangung dari yang mengingkari itu sadar atau tidak? Namun hal yang paling mengiris adalah dampak samping dari pengingkaran dan penyimpangan nurani".
"Maksud Tuan?"
"Ibaratkan, saat seseorang yang memulai hidupnya menjadi seorang sastrawan, kebanyakan mereka memulainya dari hal yang sederhana, sesederhana sastrawan tak di kenal, saat dia mulai di kenal oleh sebagian pengagumnya, sastra nya akan terlihat lebih bijak dan lebih berhati-hati, dan ketika dia ada di ambang puncak kejayaannya, sastranya akan lebih sering di publis dengan dampak "Inilah aku, diriku dan duniaku" hingga terkadang melupakan asal usul sastrawan tak dikenal. Namun saat mereka mulai tersisih, sastranya akan lebih mengisi kolom-kolom "Ruang tunggu" yang isinya lebih cenderung mengaduk-ngaduk kejayaan tua, dengan menantang penyisih dan melupakan Sang pemberi kata"
"Ah Tuan, itu berhujat namanya"
"Tapi inilah fakta pergaulan dunia, keinginan yang selalu terpenuhi membuat terlena dan saat teguran penolakan kata itu datang, mereka akan mulai lepas "Sang pemberi kata sudah keterlaluan"
"Serumit itukah hidup ini?" Tanya sang abdi sambil mengerutkan dahinya.
"Kita semua di beri talenta yang berbeda-beda, dan tergangung bagaimana kalian mengolah talenta itu. Mau rumit atau sederhana, kalian sendirilah yang menentukan"
"Tapi terkadang, pilihan sederhana pun rumit tuk di raihnya" Tanya sang abdi yang kebingungan.
"Abdiku, saat kau megatakan kata yang barusan, itupun sudah termasuk satu pilihanmu"
"Ah, sungguh?"
Sang Tuan tertawa kecil lalu melihat ke arah langit, "Ibaratkan seorang pemulung, saat dia menggunakan otaknya tuk bepikir Makanan apa yang ia bisa makan tuk esok hari ?, saat itu jugalah dia sudah memilih kesederhanaan hidup hanya untuk makanan di esok hari, namun saat ia mulai memilih bentuk makanannya, maka dia sudah mengunci pilihan"
Sang abdi terdiam, sambil ikut menatap langit biru di luar.
"Aku lelah abdiku, maukah kamu menemaniku duduk di kendaraanku untuk mengitari cuaca biru?"
"Tentu Tuanku, ini adalah satu kehormatan bagiku".
"Kemarilah, duduk di samping kemudiku"
"Tuan, aku tidak cukup terhormat untuk duduk di sebelah Tuan" Jawab sang abdi sambil menunduk.
"Kamu adalah abdiku di saat aku duduk di kursi kerjaku, tetapi saat aku duduk di kendaraan ini, Kau dan aku adalah sama adanya"
"Ah Tuan, maafkan atas kelancanganku ..."
"Kau boleh memanggilku Abdi disini, karena itulah namaku yang sesungguhnya".
"Aaa ... bdi ....?" jawab sang abdi sambil terbata-bata.
Abdi hanya tertawa kecil dan yang akan selalu kecil dalam menawa ...
Namun dalam tanya tak akan selalu ada jawab ...
"Ada surat untukmu, Tuan"
"Aku sudah melihatnya, abdiku yang setia."
"Lalu mengapa Tuan tidak membalasnya?" Tanya sang abdi keheranan.
"Abdi setiaku, aku sedang menjawabnya, tapi pertanyaanku ... apakah segala jawab nantinya akan cukup? Aku tak ingin jawaban ini nantinya akan membawa aib."
"Mengapa Tuan berpendapat demikian?"
"Ada sebagian orang yang memandang kata sebagai sebuah stimulus atau rangsangan yang dapat mengecam eksistensi diri dan lalu bicara di atas untuk mengelolah hal-hal yang tak kan pernah habis"
"Maksud Tuan pembenaran?"
"Demikianlah abdiku, Hal yang akan selalu menguras otak dan sisa-sisa waktu tuk sebuah rekaan kehati-hatian, yang walau sesungguhnya kebenaran kan selalu tergantung di nuraninya."
"Bukankah itu artinya dosa Tuanku?" Tanya sang abdi.
"Kita semua berdosa abdiku."
"Apakah dengan mengingkari sebuah kebenaran hati nurani termasuk dosa?"
"Tergantung abdiku. Tergangung dari yang mengingkari itu sadar atau tidak? Namun hal yang paling mengiris adalah dampak samping dari pengingkaran dan penyimpangan nurani".
"Maksud Tuan?"
"Ibaratkan, saat seseorang yang memulai hidupnya menjadi seorang sastrawan, kebanyakan mereka memulainya dari hal yang sederhana, sesederhana sastrawan tak di kenal, saat dia mulai di kenal oleh sebagian pengagumnya, sastra nya akan terlihat lebih bijak dan lebih berhati-hati, dan ketika dia ada di ambang puncak kejayaannya, sastranya akan lebih sering di publis dengan dampak "Inilah aku, diriku dan duniaku" hingga terkadang melupakan asal usul sastrawan tak dikenal. Namun saat mereka mulai tersisih, sastranya akan lebih mengisi kolom-kolom "Ruang tunggu" yang isinya lebih cenderung mengaduk-ngaduk kejayaan tua, dengan menantang penyisih dan melupakan Sang pemberi kata"
"Ah Tuan, itu berhujat namanya"
"Tapi inilah fakta pergaulan dunia, keinginan yang selalu terpenuhi membuat terlena dan saat teguran penolakan kata itu datang, mereka akan mulai lepas "Sang pemberi kata sudah keterlaluan"
"Serumit itukah hidup ini?" Tanya sang abdi sambil mengerutkan dahinya.
"Kita semua di beri talenta yang berbeda-beda, dan tergangung bagaimana kalian mengolah talenta itu. Mau rumit atau sederhana, kalian sendirilah yang menentukan"
"Tapi terkadang, pilihan sederhana pun rumit tuk di raihnya" Tanya sang abdi yang kebingungan.
"Abdiku, saat kau megatakan kata yang barusan, itupun sudah termasuk satu pilihanmu"
"Ah, sungguh?"
Sang Tuan tertawa kecil lalu melihat ke arah langit, "Ibaratkan seorang pemulung, saat dia menggunakan otaknya tuk bepikir Makanan apa yang ia bisa makan tuk esok hari ?, saat itu jugalah dia sudah memilih kesederhanaan hidup hanya untuk makanan di esok hari, namun saat ia mulai memilih bentuk makanannya, maka dia sudah mengunci pilihan"
Sang abdi terdiam, sambil ikut menatap langit biru di luar.
"Aku lelah abdiku, maukah kamu menemaniku duduk di kendaraanku untuk mengitari cuaca biru?"
"Tentu Tuanku, ini adalah satu kehormatan bagiku".
"Kemarilah, duduk di samping kemudiku"
"Tuan, aku tidak cukup terhormat untuk duduk di sebelah Tuan" Jawab sang abdi sambil menunduk.
"Kamu adalah abdiku di saat aku duduk di kursi kerjaku, tetapi saat aku duduk di kendaraan ini, Kau dan aku adalah sama adanya"
"Ah Tuan, maafkan atas kelancanganku ..."
"Kau boleh memanggilku Abdi disini, karena itulah namaku yang sesungguhnya".
"Aaa ... bdi ....?" jawab sang abdi sambil terbata-bata.
Abdi hanya tertawa kecil dan yang akan selalu kecil dalam menawa ...
Thursday, August 08, 2002
Kita bicara soal hidup,
sungguh membingungkan apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita selanjutnya.
Hari ini tak sama dengan esok.
Esok hari entah kita bangun dengan cahaya terik matahari atau Hujan badai.
Walau memang kita bisa menceck-nya lewat ramalah cuaca, tapi apalah arti sebuah ramalan?
Yang terkadang hanyalah sebuah kenyataan mandul, karena itu hanyalah ramalan manusia.
Tuhan memang tidak memberikan kita sebuah jalan yang mudah.
Dia menempa kita di atas batu bara,
Dia menyadarkan kita di antara longlongan anjing serigala malam
Yang bahkan terkadang dicampakannya kita ke atas tulang belulangnya.
Yang bisa kita lakukan hanyalah berjalan dan terus berjalan.
Entah badai ataupun terik menyengat
Karena jika kita tak bisa menemukan jalan di tengah badai,
maka dia yang akan turun menjadi Jalan untuk kita semua ...
-ah ... This is only a little thought for my today's life, I Love you, God -
sungguh membingungkan apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita selanjutnya.
Hari ini tak sama dengan esok.
Esok hari entah kita bangun dengan cahaya terik matahari atau Hujan badai.
Walau memang kita bisa menceck-nya lewat ramalah cuaca, tapi apalah arti sebuah ramalan?
Yang terkadang hanyalah sebuah kenyataan mandul, karena itu hanyalah ramalan manusia.
Tuhan memang tidak memberikan kita sebuah jalan yang mudah.
Dia menempa kita di atas batu bara,
Dia menyadarkan kita di antara longlongan anjing serigala malam
Yang bahkan terkadang dicampakannya kita ke atas tulang belulangnya.
Yang bisa kita lakukan hanyalah berjalan dan terus berjalan.
Entah badai ataupun terik menyengat
Karena jika kita tak bisa menemukan jalan di tengah badai,
maka dia yang akan turun menjadi Jalan untuk kita semua ...
-ah ... This is only a little thought for my today's life, I Love you, God -
Tuesday, August 06, 2002
Ku berdiri di atas tanah ini,
Hijau, di kelilingi parit air biru,
Bernaungkan 6 pohon rindang,
Berpagarkan batu mezoit abu.
Ku ingat tanah ini,
Tanah tempat kau menyendiri dalam sepi,
Bertemankan rusa hitam dan tupai kecil
Bercanda sambil melempar kenari ke arah jembatan abu.
Tapi kini tanah ini sudah tak sama lagi,
Karena ini hanyalah duplikatan tempat masa lalu
Tempat yang di hancurkan tuk kepuasan pemburu,
Pohon rindang di tebas dan parit biru di timbun.
Ku ingat tanah ini,
Tanah hijau yang selalu memenuhi kenang,
Yang pernah berdiri berpuluh insan tuk meletakan batu putih,
Dan yang akan selalu damai di jaga sepasang insan berkecup rindu.
Ku ingat tanah ini, hari ini ...
Tak sengaja kuinjakan kaki ku di tanah ini lagi,.
Walau ini hanyalah tanah duplikatan dari masa lalu,
Tapi segala sepi dan kenang yang pernah berdiri disini,
...
Tak `kan pernah ada duplikat nya, termasuk dirimu ...
-Mythic Nexia II-
Hijau, di kelilingi parit air biru,
Bernaungkan 6 pohon rindang,
Berpagarkan batu mezoit abu.
Ku ingat tanah ini,
Tanah tempat kau menyendiri dalam sepi,
Bertemankan rusa hitam dan tupai kecil
Bercanda sambil melempar kenari ke arah jembatan abu.
Tapi kini tanah ini sudah tak sama lagi,
Karena ini hanyalah duplikatan tempat masa lalu
Tempat yang di hancurkan tuk kepuasan pemburu,
Pohon rindang di tebas dan parit biru di timbun.
Ku ingat tanah ini,
Tanah hijau yang selalu memenuhi kenang,
Yang pernah berdiri berpuluh insan tuk meletakan batu putih,
Dan yang akan selalu damai di jaga sepasang insan berkecup rindu.
Ku ingat tanah ini, hari ini ...
Tak sengaja kuinjakan kaki ku di tanah ini lagi,.
Walau ini hanyalah tanah duplikatan dari masa lalu,
Tapi segala sepi dan kenang yang pernah berdiri disini,
...
Tak `kan pernah ada duplikat nya, termasuk dirimu ...
-Mythic Nexia II-
Sunday, August 04, 2002
Kutinjukan 'KEPALAN' ini pada setiap orang yang ingin menantangku.
Kemarilah HAI yang ingin mencicipi bau amis darah lawan di tanganku.
Siapkan segala serangan dari segala teknik terbaikmu.
Jangan sekalipun kau sungkan tuk melukaiku!
Kerahkan seluruh tenaga terdasyatmu bila kau tak ingin terluka parah.
Ayo SIAP! Ku hitung 3 kali,
Serempak kalian boleh menebaskan segala teknik dan jurus andalan terampuh kalian.
Sebelumnya KUPERINGATKAN!, jangan kau sekalipun lemah lengah dalam pertarungan ini,
Sekali kau urungkan tuk MEMBUNUHKU!, Maka jangan salahkan,
Bila Pedangku yang akan ganti berbicara!
Ya! Inilah pertarungan hidup yang sesungguhnya!
Tak kira berapapun petarung yang akan menatapku, TATAPLAH aku!
SINI! Padandanglah ... katakanlah apa maumu!
Keji, hina, benci ataupun iba, Bosan aku mendengarnya!
Carilah kata lain yang lebih dari itu!
Tak kira berapa kali aku tersayat berlumuran darah segar
Aku adalah aku, yang akan terus Kuasah pertarungan berdarah ini!
Kemarilah HAI yang ingin mencicipi bau amis darah lawan di tanganku.
Siapkan segala serangan dari segala teknik terbaikmu.
Jangan sekalipun kau sungkan tuk melukaiku!
Kerahkan seluruh tenaga terdasyatmu bila kau tak ingin terluka parah.
Ayo SIAP! Ku hitung 3 kali,
Serempak kalian boleh menebaskan segala teknik dan jurus andalan terampuh kalian.
Sebelumnya KUPERINGATKAN!, jangan kau sekalipun lemah lengah dalam pertarungan ini,
Sekali kau urungkan tuk MEMBUNUHKU!, Maka jangan salahkan,
Bila Pedangku yang akan ganti berbicara!
Ya! Inilah pertarungan hidup yang sesungguhnya!
Tak kira berapapun petarung yang akan menatapku, TATAPLAH aku!
SINI! Padandanglah ... katakanlah apa maumu!
Keji, hina, benci ataupun iba, Bosan aku mendengarnya!
Carilah kata lain yang lebih dari itu!
Tak kira berapa kali aku tersayat berlumuran darah segar
Aku adalah aku, yang akan terus Kuasah pertarungan berdarah ini!
Bukalah telapak tanganmu
Angkat lah tinggi dan ikutlah jiwamu
Biarkanlah sang surya menghangati nya
Dan hembusan angin menyegarkan letih jari hidup
Melesat jauh menemui sang surya putih
Menembus keangkuhan angkasa biru
Menggapai ribuan bintang galaxy
Berselubungkan ribuan cahaya putih
Meninggalkan segala badai kemunafikan
Melepaskan seluruh jubah kelaliman
Basuh keangkuhan hati terusang
Tuk hadapi sinar embun pagi terbaru
Biarkanlah semua itu datang
Saat segala khayalan mengisi hidup
Angin yang menebarkan semangat jiwa
Saat kita tak kan pernah lagi berkhayal
Karena segala kenyataan telah datang
Hidup ini hanyalah sementara,
Hidup ini hanyalah sekejap ...
Tak kan ada kesedihan jika tak kau ijinkan kesedihan itu meregut hidupmu.
Angkat lah tinggi dan ikutlah jiwamu
Biarkanlah sang surya menghangati nya
Dan hembusan angin menyegarkan letih jari hidup
Melesat jauh menemui sang surya putih
Menembus keangkuhan angkasa biru
Menggapai ribuan bintang galaxy
Berselubungkan ribuan cahaya putih
Meninggalkan segala badai kemunafikan
Melepaskan seluruh jubah kelaliman
Basuh keangkuhan hati terusang
Tuk hadapi sinar embun pagi terbaru
Biarkanlah semua itu datang
Saat segala khayalan mengisi hidup
Angin yang menebarkan semangat jiwa
Saat kita tak kan pernah lagi berkhayal
Karena segala kenyataan telah datang
Hidup ini hanyalah sementara,
Hidup ini hanyalah sekejap ...
Tak kan ada kesedihan jika tak kau ijinkan kesedihan itu meregut hidupmu.
Thursday, August 01, 2002
Revolusi Pujangga
Hai padamu yang mengeluh!Camkanlah! Ini bukanlah revolusi kata! bukan revolusi yang akan meledakkan jantung manusia. Ini revolusi Sunyi: sesunyi tetesan darahku yang 'kan ku teguk habis sendiri!
Sungguh, aku tak takut menyebut diriku pengecut; aku tak takut menghujat diriku penipu, bajingan hina, atau pendosa. Ini wajahku: tak ada yang musti disucikan! Aku sudah muak dengan segala intrik dan persengkongkolanmu! Dan terlebih aku bosan dengan anjing-tikus-
kamuflase yang berlenggak-lenggok menunggu sekutumu! Mana? Mana wajah kalian: Segenap keangkuhan, kebusukan, dan kerakusan tersingkap dari batin yang sakit dan tak sempurna.
Ini memang satu revolusi: Hai engkau yang mengeluh! Jangan lari! Meski perihnya tak terhingga, Inilah perlawanan sejati, revolusi yang paling sunyi: tak ada saksi di sini, tak ada penguasa atau yang dikuasai. Di sini, kita sendiri berdiri membaca kembali riwayat pribadi, jernih, bening, seperti siklus darah yang terus berputar di segenap pembuluh penamu!
Ya!, kini saatnya kita berani berkata: pandanglah, segenap pikiran kami yang penuh pretensi, ketamakan, dan intimidasi; pandanglah, segenap hati kami yang makin jauh dari nurani, terbelah dalam obsesi, dikejar siklus pemuasan diri.
Inikah kami? anjing yang menggigit ekornya sendiri, bangsa yang menghancurkan bangsanya sendiri? Tidak! Kami bukan itu! Untuk itulah kami memulai revolusi ini! Dengarlah hai pengeluh!, Pandanglah ke dalam diri: jangan lari! ini satu revolusi: tanpa ambisi untuk mengubah atau menggubah, tanpa dendam atau perasaan terhina, tanpa kebencian atau salvo senjata.
Inilah Revolusi Sunyi: yang akan membersihkan tangan kotor.
Hai padamu yang mengeluh!Camkanlah! Ini bukanlah revolusi kata! bukan revolusi yang akan meledakkan jantung manusia. Ini revolusi Sunyi: sesunyi tetesan darahku yang 'kan ku teguk habis sendiri!
Sungguh, aku tak takut menyebut diriku pengecut; aku tak takut menghujat diriku penipu, bajingan hina, atau pendosa. Ini wajahku: tak ada yang musti disucikan! Aku sudah muak dengan segala intrik dan persengkongkolanmu! Dan terlebih aku bosan dengan anjing-tikus-
kamuflase yang berlenggak-lenggok menunggu sekutumu! Mana? Mana wajah kalian: Segenap keangkuhan, kebusukan, dan kerakusan tersingkap dari batin yang sakit dan tak sempurna.
Ini memang satu revolusi: Hai engkau yang mengeluh! Jangan lari! Meski perihnya tak terhingga, Inilah perlawanan sejati, revolusi yang paling sunyi: tak ada saksi di sini, tak ada penguasa atau yang dikuasai. Di sini, kita sendiri berdiri membaca kembali riwayat pribadi, jernih, bening, seperti siklus darah yang terus berputar di segenap pembuluh penamu!
Ya!, kini saatnya kita berani berkata: pandanglah, segenap pikiran kami yang penuh pretensi, ketamakan, dan intimidasi; pandanglah, segenap hati kami yang makin jauh dari nurani, terbelah dalam obsesi, dikejar siklus pemuasan diri.
Inikah kami? anjing yang menggigit ekornya sendiri, bangsa yang menghancurkan bangsanya sendiri? Tidak! Kami bukan itu! Untuk itulah kami memulai revolusi ini! Dengarlah hai pengeluh!, Pandanglah ke dalam diri: jangan lari! ini satu revolusi: tanpa ambisi untuk mengubah atau menggubah, tanpa dendam atau perasaan terhina, tanpa kebencian atau salvo senjata.
Inilah Revolusi Sunyi: yang akan membersihkan tangan kotor.
